Pernahkah kita bertanya, sebenarnya seberapa banyak kita mengenal agama?
Pertanyaan ini mungkin terdengar sederhana. Sebagian dari kita mungkin akan dengan mudah menyebut beberapa agama yang sudah sangat familiar dalam kehidupan sehari-hari. Kita mengenal tempat ibadahnya, hari rayanya, kitab sucinya, bahkan mungkin beberapa ajarannya. Semuanya terasa biasa karena kita memang sering melihat dan mendengarnya.
Tetapi, bagaimana dengan agama yang jarang kita temui? Bagaimana dengan kelompok masyarakat yang menjalankan keyakinan yang berbeda dari agama yang selama ini kita kenal?
Di titik inilah saya kira kita perlu berhenti sejenak.
Sering kali tanpa sadar, pengetahuan kita tentang agama dibentuk oleh apa yang paling banyak kita lihat di sekitar kita. Apa yang paling sering muncul di media, diajarkan di sekolah, dibicarakan di ruang publik, atau dijalankan oleh orang-orang di lingkungan kita, perlahan menjadi ukuran tentang apa yang kita anggap sebagai “agama”. Akibatnya, sesuatu yang berada di luar pengalaman tersebut mudah dianggap asing. Bahkan, tidak jarang sesuatu yang tidak kita kenal dianggap tidak penting untuk diketahui. Padahal, Indonesia tidak sesederhana itu.
Agama yang Kita Kenal dan Agama yang Tidak Kita Kenal
Sebagai negara yang memiliki keragaman agama dan kepercayaan, Indonesia memperlihatkan kehidupan keagamaan yang sangat beragam. Kita mengenal agama-agama yang secara demografis memiliki jumlah penganut besar. Namun, pada saat yang sama, ada pula berbagai komunitas yang menjalankan keyakinan dan tradisi keagamaan yang mungkin tidak banyak kita temui dalam kehidupan sehari-hari. Salah satunya adalah komunitas penghayat kepercayaan atau mereka yang menjalankan tradisi keagamaan leluhur.
Istilah “agama leluhur” mungkin masih terdengar asing bagi sebagian orang. Padahal, tradisi keagamaan yang berakar pada leluhur bukan sesuatu yang baru muncul. Ia telah hidup dalam berbagai komunitas masyarakat jauh sebelum istilah “modernitas” menjadi bagian dari kehidupan kita hari ini. Persoalannya, karena tidak banyak kita kenal, keberadaan mereka sering kali luput dari perhatian.
Saya sendiri semakin menyadari persoalan ini ketika beberapa waktu lalu membicarakan agama leluhur dalam sebuah kegiatan bersama masyarakat yang tidak secara khusus bergerak dalam kajian agama. Setelah pemaparan, muncul beberapa pertanyaan yang sebenarnya sangat sederhana, tetapi menarik: siapa mereka, apa yang mereka yakini, bagaimana mereka menjalankan kehidupan keagamaannya, dan mengapa kita jarang mendengar tentang mereka?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut justru memperlihatkan sesuatu yang lebih besar. Ternyata, ketidaktahuan tentang kelompok tertentu bukan selalu karena kelompok tersebut tidak ada. Bisa jadi, kita saja yang tidak terbiasa melihat mereka.
Ketika Mayoritas Menjadi Ukuran
Ada kecenderungan dalam masyarakat untuk menjadikan pengalaman mayoritas sebagai gambaran umum tentang kehidupan beragama. Apa yang dilakukan oleh kelompok mayoritas dianggap sebagai sesuatu yang “normal”, sementara praktik yang berbeda sering kali harus diberi penjelasan tambahan.
Kita terbiasa melihat agama melalui sesuatu yang sudah familiar: rumah ibadah yang mudah ditemukan, perayaan keagamaan yang ramai diberitakan, simbol-simbol yang sering hadir di ruang publik, dan berbagai praktik yang sudah menjadi bagian dari keseharian. Sementara itu, kelompok yang lebih kecil atau kurang terlihat sering berada di luar radar perhatian kita.
Di sinilah persoalannya menjadi menarik. Ketika sesuatu jarang kita lihat, kita bukan hanya menjadi kurang tahu. Kita juga berpotensi membangun pemahaman berdasarkan asumsi.
Kita mungkin bertanya, “Benarkah itu agama?”
Atau, “Apakah mereka masih menjalankan kepercayaan tersebut?”
Bahkan bisa saja muncul pertanyaan yang lebih menghakimi: “Mengapa mereka berbeda?”
Padahal, sebelum bertanya mengapa mereka berbeda, mungkin kita perlu bertanya kepada diri sendiri: seberapa jauh kita benar-benar memahami mereka?
Ketidaktahuan tidak selalu salah. Tidak mungkin seseorang mengenal seluruh agama, kepercayaan, dan tradisi yang ada di dunia. Yang menjadi persoalan adalah ketika ketidaktahuan tersebut berubah menjadi penilaian.
-bersambung-