Program Studi Studi Agama-Agama (SAA), Fakultas Ushuluddin dan Filsafat (FUF) UIN Alauddin Makassar, turut mengambil bagian dalam persiapan agenda akademik internasional yang direncanakan dilaksanakan bersama Universiti Utara Malaysia (UUM) pada tahun 2026.
Keterlibatan tersebut ditandai dengan keikutsertaan sejumlah dosen Prodi SAA dalam rapat perdana pembentukan panitia sekaligus persiapan pelaksanaan seminar internasional dan/atau konferensi internasional yang digelar pada Jumat, 7 Agustus 2026.
Rapat awal tersebut menjadi langkah koordinasi untuk membahas konsep kegiatan, pembentukan kepanitiaan, serta berbagai kebutuhan yang perlu dipersiapkan menuju pelaksanaan agenda akademik internasional yang mempertemukan UIN Alauddin Makassar dengan UUM Malaysia.
Dalam rencana kegiatan tersebut, dosen dari Prodi SAA turut dipercaya untuk mengambil bagian dalam kepanitiaan. Keterlibatan ini memberikan ruang bagi dosen SAA untuk berkontribusi dalam perencanaan kegiatan akademik yang melibatkan mitra perguruan tinggi dari luar negeri.
Agenda seminar atau konferensi internasional tersebut direncanakan menjadi salah satu ruang akademik untuk mempertemukan dosen, peneliti, dan akademisi dari Indonesia dan Malaysia. Selain menjadi forum pertukaran gagasan, kegiatan ini diharapkan dapat membuka peluang pengembangan jejaring akademik dan kolaborasi penelitian antara kedua institusi.
Keterlibatan Prodi SAA dalam agenda tersebut juga sejalan dengan karakter keilmuan Studi Agama-Agama yang memiliki ruang kajian luas dan bersinggungan dengan berbagai persoalan sosial, budaya, keagamaan, serta isu-isu kontemporer. Forum internasional dapat menjadi ruang untuk memperluas perspektif dan memperkenalkan hasil kajian akademik kepada komunitas ilmiah yang lebih luas.
Kolaborasi dengan UUM Malaysia juga memiliki nilai strategis dalam pengembangan jejaring akademik lintas negara. Kedekatan Indonesia dan Malaysia tidak hanya terlihat dalam hubungan sosial dan budaya, tetapi juga membuka ruang yang luas bagi kerja sama di bidang pendidikan tinggi dan penelitian.
Melalui forum bersama tersebut, isu-isu keagamaan dan kemasyarakatan dapat dibahas dari perspektif yang lebih beragam. Perbedaan konteks sosial antara Indonesia dan Malaysia juga dapat menjadi sumber perbandingan yang menarik dalam pengembangan kajian akademik, khususnya yang berkaitan dengan agama dan masyarakat.
Rapat perdana pada 7 Agustus menjadi tahap awal dari rangkaian persiapan kegiatan yang direncanakan berlangsung pada tahun ini. Pembentukan kepanitiaan diharapkan dapat memudahkan pembagian tugas dan koordinasi antarpihak sehingga persiapan kegiatan dapat dilakukan secara lebih terarah.
Bagi dosen Prodi SAA yang terlibat dalam kepanitiaan, keikutsertaan ini tidak hanya menjadi bagian dari pelaksanaan tugas kelembagaan, tetapi juga membuka kesempatan untuk terlibat secara langsung dalam penyelenggaraan kegiatan akademik berskala internasional.
Keterlibatan tersebut sekaligus menjadi bagian dari upaya memperluas ruang partisipasi dosen SAA dalam kegiatan akademik yang melibatkan jejaring perguruan tinggi internasional. Pengalaman dalam menyiapkan forum ilmiah bersama mitra luar negeri diharapkan dapat mendukung pengembangan kapasitas akademik sekaligus memperluas hubungan kelembagaan.
Selanjutnya, panitia akan melakukan koordinasi dan pembahasan lanjutan terkait format kegiatan, tema, narasumber, peserta, teknis pelaksanaan, serta aspek pendukung lainnya. Berbagai persiapan tersebut akan disusun secara bertahap bersama pihak-pihak terkait di UIN Alauddin Makassar dan UUM Malaysia.
Melalui persiapan yang dilakukan sejak tahap awal, seminar atau konferensi internasional tersebut diharapkan dapat menjadi forum akademik yang produktif serta menghasilkan ruang kolaborasi yang berkelanjutan antara UIN Alauddin Makassar dan Universiti Utara Malaysia.
Bagi Prodi Studi Agama-Agama, keterlibatan dalam agenda ini menjadi salah satu bentuk partisipasi dalam pengembangan atmosfer akademik yang lebih terbuka terhadap jejaring internasional, sekaligus memperluas ruang dialog keilmuan Studi Agama-Agama pada tingkat regional.